Tuesday, 15 April 2014

Cara Mendapat Solusi dengan Tehnik; Boleh Saya Curhat?

Cara Mendapat Solusi dengan Tehnik; Boleh Saya Curhat?



Cara Mendapat Solusi dengan Tehnik; Boleh Saya Curhat?
Oleh : Rahmadsyah Mind-Therapist


Assalamu’alaikum wr.wb
Sahabat saya yang budiman. Bagaimana keadaan Anda hari ini? Semoga senantiasa selalu dalam bimbingan, hidayah dan petunjuk dari Allah swt. Mudah-mudahan kata-kata saya menyapa Anda dengan penuh kehangatan, sehinga menambah keindahan persaudaraan kita ini.

Shahabat yang baik. Bulan lalu, saya menulis tentang cara keluar dari masalah hidup. Di sana saya menyampaikan tips mendapatkan solusi dari persoalan yang sedang menyapa saya. Tulisan ini hampir mirip-mirip konteksnya. Namun, yang berbeda adalah cara menemukan solusi, dari tantangan yang saya hadapi.
Cara Menemukan Solusi
Ide ini muncul saat saya sedang melakukan pengosongan perut di bilik inspirasi. (Water Close). Saya sebut bilik inspirasi, karena memang hampir beberapa ide briliant, datang tatkala proses pembuangan terjadi. Mungkin Anda juga mengalaminya kan?

Di dukung juga oleh pengalaman saya melakukan terapi kepada klien-klien saya. Baik di klinik, chating dan via email. Ada juga diantaranya melalui curhat colongan di komentar Facebook. Ternyata, tidak semua orang datang berniat untuk di terapi, dan menemukan solusi dari arahan atau bantuan Mind-Therapist. Akan tetapi, hanya mau ada yang mendengrakan masalahnya. Ada yang menempuh bercerita, mengemukakan, mengeluarkan uneg-uneg dan curhat, terkadang ini membuat mereka menemukan sendiri solusinya, dan mengakibatkan mereka merasa plong (selesai bebannya).

Oleh karena itu, tips terapi ini saya namakan ”Boleh saya curhat?”. Ngomong-ngomong tentang curhat. Fikiran saya jadi terbang kembali ke masa-masa saya SMP dan SMA. Saya teregresi ke masa itu. Karena, kata curhat pertama sekali saya dengar saat saya kelas 2 SMP. Dan proses keseringan curhat, saya lakukan tatkala masa SMA. So sweet lah. Benar kata Obie Mesakh ”Masa-masa paling indah, masa-masa di sekolah. Kisah kasih paling indah, kisah kasih di sekolah..” (yang mau nostalgia, monggo dilanjut ya, saya mau balik ke topik).

Strategy Curhat
Seperti biasa. Saya mau menyampaikan maklumat, bahwa cara-cara yang akan saya sampaikan belumlah cocok, tepat dan pas dengan kondisi persoalan Anda hadapi sekarang. Namun, ada benarnya Anda melakukan terlebih dahulu untuk mengetahui hasilnya kan? Sehingga adapun strategynya seperti berikut ini.

Curhat kepada Konselor atau teman Dekat
Tips ini seolah-olah Anda sedang bercerita, menyampaikan, mencurahkan isi hati Anda kepada orang yang Anda percayai. Dan Anda yakin bisa membantu Anda mendapatkan solusi. Caranya tidak jauh beda seperti kebiasaan yang sudah Anda lakukan. Namun, Anda mesti lebih mencurahkan perhatian dengan cara yang satu ini. Oh ya, mumpung saya ingat nih. Cara ini akan sangat berdampak luar biasa efektif, apabila Anda mejalaninya dengan membakar kemenyan (he..he.. bercanda). Maksud saya, dengan menggunakan fikiran imajinatif Anda. Jadi, untuk sementara, fikiran logika dan analisis, disimpan dulu ya...

9 Langkah Terapi ”Boleh Saya Curhat”

Perceptual Position
  1. Berdoa kepada Allah agar, usaha Anda menghasilkan solusi. Kemudian dimudahkan dan di Ridahi oleh Allah.
  1. Siap kan tiga buah kursi, atau tandai tiga titik pada lantai tempat Anda berada. Boleh lurus atau berbentuk segitiga.
  1. Beri nama atau kode untuk memudahkan proses therapy pada tiap kursi.Contoh : Kursi pertama Anda beri code/nama Sang Masalah, KursiKedua Juru bicara. Dan Ketiga Sang Konselor. (Anda boleh mengganti nama-nama di atas sesuai keinginan dan kehendak Anda. Ingat! gunakan imajinatif Anda, tidak perlu bertanya untuk apa. Lakukan dan ikuti saja intruksinya, oke kan?)
  1. Sekarang, bisa Anda duduk di tiap-tiap kursi atau titik yang telah Anda namai tadi. Silahkan Anda berada disana, dengan 100% hadir sebagai nama yang Anda beri tadi. Contoh : Kursi Juru Bicara. Saat Anda duduk di atas kursi ini, jadilah seolah-olah Anda sebagai benar-benar seorang juru bicara. Sebagaimana kita tau, yang nama nya juru bicara, terkadang hanya menyampaikan apa yang mesti disampaikan oleh Sang Masalah. Jadi, Anda di kursi Juru Bicara, seolah-olah orang lain, yang akan menceritakan tentang kondisi Sang Masalah. Sehingga Anda tidak mengalami apa yang dia rasakan, Anda tidak larut, dan Anda benar-benar menjadi orang lain (ingat gunakan imajinatif Anda). Begitu pula dengan Sang Konselor. Saat Anda duduk di kursi ini, seolah Anda seorang Konselor. Bolehlah sedikit sok tau ya. He...he... sementara di Kursi Sang Masalah, tidak perlu saya jelaskan. Anda sudah sangat mahir karena sudah mengalami ^_^...
  1. Mari kita mainkan. Pertama, duduklah di Kursi Sang Masalah....Rasakan, lihat dan dengarkan serta alami secara total masalahnya. Setelah itu sampaikan kepada sang Juru Bicara.
  1. Setelah Anda merasa sudah benar-benar full 100% merasakannya, sekarang pindahlah ke kursi Sang Juru Bicara. Mulailah bercerita kepada ke Kursi Sang Konselor kondisi teman/klien Anda yang bermasalah itu. Sebagai sang Juru Bicara, boleh ambil intervensi (memberikan sudut pandang) juga pendapat Anda (Sebagai Juru Bicara), berdasarkan pengamatan Anda terhadap cara Sang Masalah duduk, ekspresi wajahnya, cara bernafas, cara bercerita dll, yang dilakukan oleh sang Masalah.
  1. Sekarang Anda pindah ke kursi Sang Konselor. So selamat menikmati sebagai orang pemberi solusi. Lihat ekspresi si Juru Bicara yang tak punya masalah dan juga Kursi Sang Masalah. Berdasarkan analisa Anda, dari cerita Sang Juru Bicara. Apa hal Terbijak dan terbaik mesti di fikirkan, dilakukan serta di ambil keputusan sekarang, oleh Sang Masalah. Berikan juga nasehat serta wejangan kepada nya.
  1. Silahkan Anda duduk kembali ke kursi Sang Masalah. Setelah mendengar Curhat Sang Juru bicara ke Sang Konselor, kemudian Anda menyimak nasehat serta pandangan dari Sang Konselor. Apa yang Anda alami dan terjadi pada diri Anda? Dan, apakah sudut pandang sang Konselor memberi pemahaman dan Anda menemukan solusinya sekarang? (Bila Anda belum menemukan solusi, boleh Anda ulangi sekali lagi).
  1. Apabila Anda merasa sudah mendapatkan hal yang Anda inginkan (Solusi), boleh akhiri dengan rasa syukur dan hamdalah kepada Allah. Juga kepada diri Anda sendiri, karena sudah mau berdamai dan bersedia untuk memecahkan masalah (get solution) secara bersama-sama.
Sekedar sharing, saya terkadang melakukan cara di atas dengan memanfaatkan fikiran kreatifitas saya. Yaitu menghadirkan tokoh imajiner, Coach yang selama ini membimbing dan mengarahkan saya. Jadi, seolah-olah beliau Ada disana, dan memberikan solusi kepada diri saya. Namun, terkadang saya sendiri yang seolah-olah menjadi seorang ahli dalam memberi sololusi saat berada di Kursi Sang Konselor.

Selamat melakukan dan mempraktekkan. Semoga tips ini menjadi cara untuk menghasilkan solusi terhadap tantangan hidup yang sedang bertamu kepada Anda. (Yang namanya tamu pasti pulangkan?).



Rahmadsyah Mind-Therapist

Kisah yang harus anda baca gan

Kisah yang harus anda baca gan

 
 Untuk kali ini ada 2 kisah yang ingin saya share ke rekan - rekan semua....
1. Kisah sayap kerdil ~ berisi penyesalan si burung kecil karena tidak memaksimalkan kemampuan diri sejak dini....
2. Kisah 1000 kelereng ~ berisi tentang berharganya waktu bersama orang - orang yang kita kasihi...
Semoga manfaat, sukses untuk anda semua...!!!.
  
Kisah Sayap Kerdil
 
Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.

Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.
Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.
Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?”
Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.”
Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan.Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat.
Semoga bermanfaat


Kisah 1000 Kelereng
Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak  usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang  tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara  Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa  obrolannya.

“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok  ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun  kau tak sempat”.
Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”.
Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.” Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang  selama hidupnya.  Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal  yang lebih penting”.
“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini”, sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.
“Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng  itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.
“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati  waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.
“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku  berfikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah  telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.
“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”
Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar ! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin  ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan  segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku  ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan”. “Lho, ada apa ini…?”, tanyanya tersenyum.  “Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial”, jawabku, “ Kan sudah  cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya,  nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng.”
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Dikutip dari Indonesian groups

Dari setiap satu kelereng yang telah terbuang, apakah yang telah anda dapatkan ?
Apakah ……..
kesedihan
keraguan
kebosanan
rasa marah
putus asa
hambatan
permusuhan
pesimis
kegagalan ?

ataukah …….
kebahagiaan
kepercayaan
antusias
cinta kasih
motivasi
peluang
persahabatan
optimis
kesuksesan ?

Waktu akan berlalu dengan cepat. Tidak banyak kelereng yang tersisa dalam kantong anda saat ini. Gunakan secara bijak untuk memberikan kebahagiaan yang lebih baik bagi anda sendiri, keluarga, dan lingkungan anda.

Antara Lidah,Perkataan,dan Perbuatan

Antara Lidah,Perkataan,dan Perbuatan

salam para peyekER's
Artikel: Antara Lidah, Perkataan, Dan Perbuatan
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Berbicara. Sungguh sebuah kosa kata yang sederhana. Setiap hari kita mengucapkan kata-kata, sehingga sama sekali tidak ada hal yang menarik untuk dibahas. Tetapi, mengapa ada orang yang dibayar hingga puluhan juta rupiah untuk berbicara selama satu atau dua jam saja? Ada orang yang dicintai karena perkataan-perkataannya. Dan ada orang yang dibenci karena ucapan-ucapannya. Oleh sebab itu, kesederhanaan dibalik makna ‘berbicara’ pastilah memiliki keistimewaan yang layak untuk kita renungkan.
Berbicara bukanlah sekedar keterampilan memainkan lidah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Melainkan juga menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan gagasan, bertukar pikiran, juga mempengaruhi orang lain. Bagi Anda yang tertarik untuk belajar berbicara secara efektif, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:
1.      Berbicaralah yang baik, atau diam saja. Sungguh beruntung orang-orang yang dapat menjaga lidahnya untuk tetap diam, daripada mereka yang rajin mengucapkan perkataan yang tidak memiliki manfaat apa-apa. Resiko tertinggi orang yang diam adalah ‘disebut orang pasif’. Sedangkan resiko terrendah bagi orang yang banyak bicara adalah disebut ‘orang yang banyak omong’. Manfaat terbesar bagi orang yang diam adalah ‘tidak dibenci oleh orang lain’. Sedangkan manfaat terbesar bagi orang yang berbicara adalah; ‘pahala yang mengalir atas kata-katanya yang baik’. Maka berbicaralah yang baik-baik karena pahala kebaikannya sangat besar. Atau kalau tidak bisa mengucapkan perkataan yang baik, maka sebaiknya ya diam saja.
2.      Selaraskanlah antara perkataan dengan perbuatan. Perhatikan orang-orang yang tidak selaras antara perkataannya dengan perbuatannya. Betapa banyak contoh orang seperti itu dihadapan Anda. Dan Anda tahu betul bahwa orang lain sudah tidak lagi mempercayai mereka. Ketika seseorang mengatakan pesan-pesan kebaikan kepada orang lain, namun dirinya sendiri berperilaku sebaliknya; maka orang tidak lagi mempercayai kata-katanya. Karena ketidakselarasan menyebabkan hilangnya kepercayaan. Jagalah keselarasan antara perkataan dan perbuatan, maka Anda akan mendapatkan kepercayaan dari orang-orang disekitar Anda.
3.      Gunakanlah perkataan untuk mengajari diri sendiri. Orang-orang yang terlalu banyak berbicara – saya, misalnya – memiliki kecendrungan untuk mengajari atau mengajak orang lain melalui perkataan yang yang diucapkannya. Sayangnya sering lupa untuk mengajari diri sendiri. “Jujurlah!” katanya. Tetapi dia sendiri tidak jujur. Ini menandakan bahwa dia gagal mengajari dirinya sendiri. Motivasi saya saat mengatakan sesuatu adalah mengajari diri sendiri. Ternyata sangat berat untuk belajar sendirian, makanya saya membagi pelajaran bersama orang-orang yang saya cintai. Itulah sebabnya sambil mengajari diri sendiri, saya berbagi pelajaran itu dengan Anda.
4.      Tebuslah perkataan dengan pendengaran. Ada ruginya juga memposisikan diri sebagai orang yang paling banyak berbicara. Kita sering tidak sempat mendengar perkataan orang lain. Boleh jadi perkataan kita bukanlah hal terbaik dalam satu urusan tertentu. Namun karena kita tidak bersedia mendengarkan perkataan orang lain; maka kita kehilangan pelajaran berharga. Sungguh beruntunglah orang yang selain berbicara, dia juga bersedia mendengar. Selain ilmunya bisa memberi manfaat kepada orang lain, dia sendiri bisa menarik manfaat dari pelajaran yang ditebarkan oleh orang lain.
5.      Yakinlah jika setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan. Kita sering mengira bahwa kata-kata yang keluar dari mulut kita akan menguap begitu saja. Kenyataannya perkataan yang kita ucapkan beberapa tahun lalu, masih diingat oleh orang lain. Sungguh beruntung jika kata-kata itu baik. Namun sungguh rugi kita jika kata-kata itu buruk. Setiap kata yang baik, menghasilkan pahala yang baik. Namun, setiap perkataan buruk pasti akan dibalas dengan imbalan yang juga buruk. Bahkan, guru spiritual saya mengatakan; “Betapa besarnya murka Tuhan kepada orang yang mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan perbuatannya.” Maka yakinlah, setiap perkataan harus dipertanggungjawabkan.
Keterampilan berbicara bukanlah monopoli mereka yang berprofesi sebagai pembicara publik. Setiap orang patut memiliki keterampilan berbicara yang baik. Satu hal yang perlu diingat adalah; berbicara tidak selalu berarti mengucapkan sesuatu dengan lidah kita. Melainkan juga menunjukkan tindakan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita bisa berbicara dengan nyaring, namun perbuatan kita berbicara lebih nyaring dari kata-kata yang diolah oleh lidah kita.
Mari Berbagi Semangat!

APAKAH TUHAN ITU ADA ?

APAKAH TUHAN ITU ADA ?



APAKAH TUHAN ITU ADA ?

Al Kisah ada seorang Pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, Kyai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya Orang tua Pemuda itu mendapatkan Seorang Kyai

Tanya Pemuda : Anda siapa? Dan apakah bisa menJawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Jawab Kyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menJawab pertanyaan anda
Tanya Pemuda : Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menJawab pertanyaan saya.
Jawab Kyai : Insya Alloh saya akan mencoba sejauh kemampuan saya
Tanya Pemuda : Saya punya 3 buah pertanyaan

1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir
3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.

Tanya Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?
Jawab Kyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah Jawab an saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti
Tanya Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Jawab Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit
Tanya Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
Jawab Pemuda : Ya
Tanya Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !
Jawab Pemuda : Saya tidak bisa
Kyai : Itulah Jawab an pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
Tanya Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Jawab Pemuda : Tidak
Tanya Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
Jawab Pemuda : Tidak
Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir
Tanya Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Jawab Pemuda : kulit
Tanya Kyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Jawab Pemuda : kulit
Tanya Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Jawab Pemuda : sakit
Kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan.

Terima kasih mudah-mudahan apa yang saya tadi tuliskan menjadi dorongan untuk lebih mempercayai keberadaan Tuhan, Insya Allah ridhanya akan di anugrahkan kepada kita semua. Amiiin …

Uang tak bisa membeli kebahagiaan

Uang tak bisa membeli kebahagiaan...


 Adalah Tomi, Pimpinan sebuah perusahaan di Jakarta,
tiba di rumahnya jam 9 malam.

Tak seperti biasanya anaknya, dinda, umur 9 th membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, blum tidur?" sapa tomi

"Aku nunggu Papa pulang,
sbab aku mau tanya,
Berapa sih gaji Papa?"

"Kamu hitung ya..
Tiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam & dibayar 400.000, tiap bulan rata-rata 22 hari kerja, kadang Sabtu masih lembur.
Berapa gaji Papa hayo?"

"Kalo 1 hari Papa dibayar 400.000 u/ 10 jam, berarti 1 jam Papa digaji 40.000 dong"

"Wah, pinter kamu.
Sekarang cuci kaki, terus tidur ya.."

"Papa, aku boleh pinjam 5.000 gak?"

"Sudah, gak usah macam-macam..
Buat apa minta uang malam-malam gini? Tidurlah.."

"Tapi Papa…"

"Papa bilang tidur!"

Dinda pun lari menuju kamarnya sedih.

Usai mandi,
Tomi menyesali kekesalannya,
menengok dinda di kamar tidurnya sedang terisak sambil memegang 15.000

Sambil mengelus kepala dinda, tomi berkata, "Maafin Papa ya..
Papa sayang sama dinda..
Tapi buat apa sih minta uang sekarang?

"Papa, aku gak minta uang.
Aku hanya pinjam,
nanti aku kembalikan kalo sudah menabung lagi dari uang jajan seminggu ini."

"lya, iya, tapi buat apa?"

"Aku nunggu Papa dari jam 8 mau ajak Papa main ular tangga 30 menit aja.
Mama sering bilang waktu Papa itu amat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa.
Aku buka tabunganku hanya ada 15.000...
Karna Papa 1 jam dibayar 40.000,
maka setengah jam aku harus ganti 20.000..
Duit tabunganku kurang 5.000,
makanya aku mau pinjam dari Papa" kata dinda polos

Tomi pun terdiam.
Ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dgn haru.

Dia baru menyadari,
ternyata limpahan harta yg dia berikan selama ini, tak cukup u/ "membeli" kebahagiaan anaknya.

Pesan..
"Bagi dunia kamu hanya seseorang,
tapi bagi seseorang kamu adalah DUNIA-nya" :)

Apakah anda menyukai tebu,atau gulanya???

Apakah anda menyukai tebu,atau gulanya???


Artikel: Apakah Anda Menyukai Tebu Atau Gulanya?
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
“Habis manis, sepah dibuang,” betapa pandainya para sepuh kita membuat perumpamaan. Orang-orang yang dinilai sudah tidak berguna lagi disisihkan begitu saja. Kadang kita marah, kalau diperlakukan seperti sepah. Padahal, kita juga akan membuang sepah itu jika sudah tidak ada lagi rasa manisnya. Ini soal siapa pelaku dan siapa korbannya saja. Kita tidak suka jadi korban, itu saja. Bukankah kita juga tidak ingin menyimpan sepah dirumah? Wajar jika sepah itu dibuang. Yang tidak wajar adalah yang belum menjadi sepah sudah dibuang. Juga tidak wajar jika kita sudah menjadi sepah, tetapi menuntut orang lain untuk terus menerus menikmati rasa manis yang sudah tidak kita miliki lagi. Ngomong-ngomong, ‘sepah’ itu apa sih?
Meski bukan daerah penghasil gula, namun di rumah masa kecil saya terdapat rumpun-rumpun pohon tebu. Kami menggunakan parang untuk memotong batangnya, lalu mengupas kulitnya. Kemudian memotong batang tebu itu menjadi seukuran jari-jari telunjuk. Setelah itu? Kami mengungahnya. Rasa manis memenuhi mulut kami. Lalu tiba saatnya dimana kunyahan itu hanya menyisakan rasa tawar saja. Di mulut kami sekarang hanya tertinggal ampas. Kami meludahkan ampas itu ke tanah. Benda tak berdaya diatas tanah itulah yang kita sebut sebagai sepah. Habis manis, sepah dibuang. Memangnya harus diapakan lagi sepah itu jika tidak dibuang? Kita sering menggambarkan hidup yang sudah tidak berguna sebagai sepah. Kita sadar jika sudah tidak berguna, tetapi masih ngotot untuk tidak dibuang. Itu mengindikasikan bahwa ini adalah saatnya untuk mengubah paradigma tentang hidup. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memperbaiki paradigma hidup itu; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Jadilah pemanis kehidupan. Disekitar kita begitu banyak orang yang suka minum kopi. Tetapi, saya hampir tidak pernah mengenal orang yang minum kopi tanpa gula. Bahkan sekalipun kita menyebutnya ‘kopi pahit’, ternyata ya menggunakan gula juga. Mengapa gula selalu ada dalam setiap cangkir kopi yang disajikan? Karena gula membuat rasa pahit pada kopi terasa menjadi manis. Anda yang mengetahui rasa asli kopi tentu tahu jika sebenarnya kopi itu mirip arang. Karbon yang tersisa dari benda hangus. Makanya rasanya tidak benar-benar enak. Tetapi, ketika kedalam seduhan kopi pahit itu kita bubuhkan gula; tiba-tiba saja kita menikmatinya. Bahkan menjadikannya sebagai minuman favorit. Bayangkan jika kita bisa membuat rasa pahit kehidupan menjadi terasa manis. Tentunya kita tidak akan lagi harus disiksa oleh rasa pahit itu. Bahkan boleh jadi, kita menjadi penikmat rasa pahit itu. Kita bisa menari dalam deraan tantangan dan rintangan. Kita masih bisa tersenyum ditengah terpaan angin cobaan. Dan kita masih bisa bersyukur meski tengah berada dalam pahit getirnya cobaan hidup. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang mampu memaniskan kehidupan.
2. Jadilah pribadi yang manis, maka pasti selalu dikerubuti. Ditempat tidur saya tiba-tiba saja banyak sekali semut. Setelah diperiksa, ternyata ada sisa-sisa gula dari kue kering yang kami makan bersama anak-anak. Ternyata benar; ada gula, ada semut. Para semut tidak lagi memperdulikan lokasi dan situasi. Dimana ada gula, kesitulah mereka berbondong beriringan. Ini tidak hanya benar bagi para semut. Coba saja perhatikan orang-orang yang bisa memberi manfaat bagi lingkungannya. Para dermawan, selalu dikerubungi oleh para pengikut setianya. Para alim ulama dan orang-orang berilmu, selalu menjadi rujukan para pencari pencerahan. Siapapun yang bisa memberi manfaat kepada orang lain, bisa dipastikan selalu dibutuhkan oleh mereka. Kita? Sesekali orang lain itu mbok ya membutuhkan kita gitu loh. Tapi mengapa yang terjadi malah sebaliknya ya? Mereka malah mengira seolah kita ini tidak ada. Sekalipun kita sudah menyodor-nyodorkan wajah kita. Tetap saja masih tidak mereka lihat. Sudah beriklan, bahkan. Tapi juga tidak ditanggapi. Barangkali, karena kita belum bisa menjadi pribadi yang manis bagi mereka. Karena sudah menjadi fitrah manusia untuk mengerubuti segala sesuatu yang terasa manis.
3. Tetaplah manis, maka sepahmu tidak pernah dibuang. Mari berhenti untuk marah atau kecewa jika orang lain membuang kita karena mereka menilai kita sudah menjadi sepah. Mereka tidak salah. Kitalah yang harus berpikir bagaimana caranya supaya tidak menjadi sepah. Sebab jika kita masih tetap memiliki rasa manis itu, mereka tidak akan membuang kita, percayalah. Saya mengenal seorang eksekutif senior yang mumpuni. Setelah memasuki masa pensiun dari jabatanya yang tinggi, saya pikir beliau akan menjadi seperti ‘tebu-tebu’ yang lainnya. Ternyata saya keliru. Perusahaan kemudian memperpanjang masa kerjanya dengan system kontrak. Lalu beliau berpindah ke perusahaan lain. Lalu beliau ditarik lagi oleh perusahaan lainnya. Bagi saya, beliau inilah salah satu living legend mereka yang tidak pernah membiarkan dirinya ‘kehilangan rasa manis’. Meski usianya sudah jauh melampaui masa pensiun, beliau tetap manis. Rasa manis yang masih tetap lestari didalam dirinya itulah yang menjadikan beliau tetap menjadi rebutan perusahaan-perusahaan besar. Jadi jika kita tidak ingin menjadi sepah yang dibuang, maka kita harus memastikan bahwa kita tetap menjadi pribadi yang manis.
4. Nikmatilah rasa manis secukupnya, tidak berlebihan. Sekarang, cobalah ambil sesendok gula terbaik yang Anda miliki. Lalu suapkan sesendok gula itu kedalam mulut Anda, dan kunyahlah. Apakah Anda masih menikmati rasa manisnya? Pada dasarnya, semua orang menyukai rasa manis. Namun, tak seorang pun bisa melahapnya terlalu banyak. Kita semua mendambakan manisnya kehidupan. Dan kita sering terlalu serakah untuk merengkuhnya sendirian. Bahkan gula pun mengajari kita bahwa terlalu banyak rasa manis membuat kepala kita pusing, bahkan kita bisa mengalami sindrom toleransi insulin. Sungguh keliru jika kita mengira hidup yang manis itu adalah yang semuanya serba indah. Tidak. Justru hidup yang terlalu indah cenderung menjadikan kita pribadi yang serakah. Semacam sindrom toleransi insulin kehidupan. Tidak peduli betapa banyak insulin yang diproduksi dalam tubuh Anda, gula akan tetap menumpuk dalam darah Anda. Tahukah Anda apa yang terjadi ketika dalam darah kita terdapat lebih banyak gula dari yang seharusnya? Hmmmh, Anda tentu paham yang saya maksudkan. Bahkan rasa manis kehidupan yang terlalu banyak pun bisa membahayakan kehidupan diri Anda sendiri. Maka nikmatilah rasa manisnya kehidupan, namun tidak perlu berlebihan.
5. Semanis apapun kita, tidak bisa lepas dari fitrah. Sepah di kebun tebu kami jumlahnya tidak terlalu melimpah. Namun jika dibiarkan tetap saja menjadi sampah. Kami punya banyak pilihan untuk memperlakukannya. Jika kami membuangnya ke kolong kandang domba, maka sepah itu akan menambah nutrisi pada pupuk kandang yang kami dapatkan. Jika kami membuangnya ke kolam ikan, maka dia akan menjadi tempat tumbuhnya plankton dan jentik-jentik makanan penggemuk ikan. Jadi, apanya yang terbuang dari seonggok sepah? Tidak ada. Sepah benar-benar menyadari bahwa dia tidak bisa melawan fitrah. Semua orang yang pernah muda akan menjadi tua. Semua yang gagah perkasa akan menjadi tak berdaya. Semua yang kuat menjadi lemah. Itulah fitrah. Tetapi mari sekali lagi kita lihat sang sepah. Bahkan setelah masuk tempat sampah, dia tetap saja menjadi anugerah. Jika kita ikut mengimani konsepsi hidup setelah mati, maka kita lebih beruntung lagi. Karena dengan keyakinan itu kita kita bisa berharap memetik buah manis tabungan kebaikan yang pernah kita lakukan semasa hidup. Kita boleh berharap itu, karena iman kita mengajarkan bahwa setiap amal baik yang pernah kita lakukan atas nama Tuhan, akan membuahkan imbalan yang sepadan. Beruntunglah kita yang percaya, karena setidak-tidaknya kita memiliki harapan; bahwa fitrah kita adalah untuk mempersiapkan tempat pulang alam keabadian.
Tidak perlu lagi untuk merasa kecewa karena telah dihempaskan oleh lingkungan yang Anda harapkan memberikan penerimaan. Mungkin mereka benar telah menghempaskan kita karena kita belum bisa memberi rasa manis yang mereka butuhkan. Mungkin juga mereka keliru karena tidak bisa menghargai rasa manis yang kita miliki. Tetapi, bukan itu yang perlu menjadi fokus perhatian kita sekarang. Cukuplah untuk selalu memikirkan, bagaimana caranya agar kita bisa memberikan lebih banyak lagi rasa manis? Karena dengan rasa manis yang kita tebarkan, kita tidak perlu meneriaki para semut untuk mengerubuti. Insya Allah, cepat atau lambat; mereka akan datang sendiri.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 4 Agustus 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Jika kita merasa dibuang dari lingkungan yang kita inginkan, mungkin itu karena kita sudah tidak memiliki rasa manis yang bisa kita berikan. Atau, rasa manis kita lebih dibutuhkan ditempat yang lain.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain. Tapi tolong, jangan diperjualbelikan ya.

Menulis Diatas Kertas Kehidupan Kita.

Menulis Diatas Kertas Kehidupan Kita.


Artikel: Menulis Diatas Kertas Kehidupan Kita
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Saya meyakini bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci. “Jiwanya bersih laksana selembar kertas putih,” demikian guru kehidupan saya mengajarkan. Setiap tindakan yang dilakukannya menjadi tanggungjawab orang tuanya hingga dia mencapai usia akil baligh. Jelas sekali jika orang tua hanya berperan dalam proses ‘persiapan’ saja. Sedangkan setelah seorang anak akil baligh, maka semua tindak tanduk dan perilakukanya menjadi tanggungjawab dirinya sendiri. Setiap orang memiliki buku catatan amalnya masing-masing yang akan menjadi laporan akhir ketika hari berbangkit tiba kelak. Lembaran-lembarannya merupakan dokumentasi semua perbuatan. Oleh sebab itu, menjalani hidup tidak ubahnya dengan menulis diatas kertas kehidupan itu sendiri.
Suatu ketika saya membuka kotak penyimpanan dokumen-dokumen lama yang sudah disimpan selama bertahun-tahun. Didalam kotak itu saya menemukan berbagai macam catatan, termasuk surat cinta, kartu lucu-lucu, puisi-puisi yang saya tulis, dan berbagai pernak-pernik lainnya. Ketika membacanya kembali, saya berkali-kali bergumam; apa iya saya pernah menulis kalimat ini? Tetapi saya tidak bisa mengelak karena kertas itu berisi tulisan tangan sendiri. Di hari kebangkitan kelak, nasib kita kira-kira sama; kita dihadapkan kepada buku besar berisi catatan perjalanan kehidupan. Jika catatan itu baik, maka kita akan senang. Namun, jika catatan itu buruk, kita bertanya; ‘benarkah saya sudah melakukan hal itu?” Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menulis dalam kertas kehidupan; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Nilai selembar kertas ditentukan oleh catatan yang tertulis didalamnya. Bayangkan Anda memiliki 4 lembar kertas berukuran A4 yang masing-masing Anda beli seharga 100 rupiah. Satu lembar digunakan oleh Barrack Obama untuk menuliskan memo tentang skema pembayaran utang Amerika. Satu lembar diambil Bill Gates untuk menuliskan memo hadiah 1 milyar dollar bagi siapa saja yang membawa kertas itu ke akuntannya. Satu lembar lagi digunakan bajak laut karibia untuk menggambarkan peta penyimpanan harta karunnya. Lembar terakhir Anda simpan utuh dalam sebuah kotak kayu didalam gudang. Sekarang, apakah ke 4 lembar kertas itu nilainya tetap sama? Tidak. Karena diatas masing-masing kertas itu sekarang sudah tertera catatan penting yang menentukan ‘nilai sebenarnya dari kertas itu. Berapa nilai kertas yang Anda biarkan kosong? Hidup kita juga sama. Tuhan menciptakan semua orang dengan nilai yang sama. Namun saat kita kembali menghadap kepadaNya, nilai itu sudah tidak sama lagi. Karena nilai akhir hidup kita, ditentukan oleh catatan yang tertulis dalam buku kehidupan masing-masing.
2. Menyadari setiap goresan tinta dalam kertas kehidupan. Jika Anda berkunjung ke ruang bayi di rumah bersalin, cobalah perhatikan wajah bayi itu satu demi satu. Bukankah semua bayi itu lucu dan menggemaskan? Anda tidak perlu mengenal siapa orang tua mereka untuk menyukai sosoknya. Karena bayi adalah mahluk suci putih bersih laksana selembar kertas utuh ke-4 yang masih Anda simpan itu. Saya dan Anda, dulu persis seperti bayi-bayi itu. Jiwa kita bersih. Namun kita sering tergoda untuk melakukan tindakan dan perilaku yang dikendalikan oleh hawa nafsu, sehingga kita sering tidak mempertimbangkan konsekuensi tindakan yang kita lakukan. Padahal setiap tindakan kita pada hakekatnya merupakan goresan-goresan pena dalam lembaran-lembaran kertas kehidupan kita. Sungguh rugi jika kita terlalu banyak menggoreskan tinta keburukan. Dan kita diliputi oleh keberuntungan yang dijanjikan oleh para Nabi, jika kita mengisi kertas itu dengan pena yang menuliskan jejak-jejak kebaikan dalam perjalanan hidup kita. Setidak-tidaknya, kita bisa mengusahakan agar lebih banyak catatan baik daripada yang buruk.
3. Kita tidak bisa menyangkal tulisan yang pernah dibuat. Dalam kotak dokumen lama itu saya menemukan sebuah puisi yang sungguh indah. Siapakah gerangan yang menuliskan puisi ini? Sulit untuk mempercayai jika puisi itu saya sendiri yang menulisnya. Puisi yang saya buat ketika jatuh cinta. Dalam kotak itu juga saya menemukan sebuah kertas berisi catatan tentang pengakuan atas dosa-dosa yang telah saya lakukan. Seburuk itukah saya? Kapan? Saya tidak pernah melakukan itu. Tetapi, jelas sekali jika catatan itu menorehkan pengakuan tulus saya atas perilaku buruk yang sudah saya perbuat. Sungguh, kita tidak mungkin bisa mengingat semua hal yang pernah kita lakukan semasa hidup. Namun kertas kehidupan kita mencatatkan semuanya itu dengan sedetail-detailnya tentang makanan yang kita santap, hak orang lain yang kita jarah, harta yang kita rebut dengan cara licik, kebohongan yang kita tutupi didepan publik, bisikan hati yang kita sembunyikan, senyum yang kita tebarkan, nasihat yang kita sampaikan, kebaikan yang kita berikan. Semuanya tercatat dengan rapi. Kelak jika catatan itu dibahas disidang akhirat, kita akan terkejut; oh, benarkah saya telah melakukan kebaikan itu? Sebuah kejutan yang indah. Namun sungguh rugi jika kita terkejut oleh catatan buruk amal-amal kita. Lidah kita boleh menyangkal. Tetapi, catatan itu menceritakan segalanya. Penyangkalan kita menjadi sia-sia belaka.
4. Catatan masa lalu tidak bisa dihapus, namun bisa ditebus. Istri saya pernah bekerja di sebuah perusahaan pembuat kertas daur ulang. Bahan bakunya adalah kertas-kertas bekas apa saja yang berisi beragam macam catatan. Ditangan mereka, kertas bekas itu diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan pernak-pernik benda-benda seni yang indah. Tidak tampak lagi jejak catatan-catatan isi kertas sebelumnya. Sejak kita memasuki masa akil baligh, tentunya banyak keburukan yang sudah kita lakukan. Mungkin kita bisa meminta maaf. Namun kata maaf tidak serta merta menghapuskan catatan perbuatan buruk kita. Tidak mungkin semua itu bisa dihapus. Tetapi, kita bisa menebus semua keburukan dimasa lalu dengan komitmen untuk mengubahnya menjadi keindahan. Kertas kehidupan yang terlanjur coreng moreng itu harus diblender dengan komitmen tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Lalu diperas, dicetak, disetrika, dan dibentuk serta dihias dengan perangai indah. Itu bukan perkara mudah. Namun kita bisa melakukannya jika kita benar-benar menginginkannya. Tetapi, siapa yang tidak ingin catatan kertas kehidupannya disajikan dalam bentuk yang indah saat menghadap Sang Khalik kelak? Perilaku baik dan perangai indah yang kita lakukan mulai saat ini, semoga menjadi penebus bagi catatan keburukan masa lalu yang tidak bisa dihapus.
5. Putihkan kembali kertas kehidupan yang mulai buram. Dalam kotak dokumen itu, semua kertas yang saya temukan berwarna buram kecoklatan. Padahal dulu kertas-kertas itu berwarna putih bersih. Sama seperti kertas kehidupan kita yang dulu putih bersih, namun kini sudah berubah menjadi kotor karena tindakan-tindakan buruk yang kita lakukan. Di pabrik kertas, bubur kayu mengalami proses ‘bleaching’ dengan klorin untuk menghilangkan pengaruh lignin yang membuat warna kertas menjadi buram. Kertas kehidupan kita diputihkan dengan apa? Sejak zaman dahulu, para para Nabi mengajarkan cara membleaching kertas kehidupan kita. Sesuai dengan tantangan pada zamannya masing-masing, para utusan suci itu tidak henti-hentinya mengajak umatnya untuk terus berusaha memutihkan kertas kehidupannya. Guru kehidupan saya menjelaskan bahwa meskipun berbeda masa, namun inti ajaran para Nabi itu sama yaitu; “Berserah diri hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Penyerahan diri secara utuh itulah yang menjadi ‘bleacher’ kertas kehidupan kita. Sedangkan perangai dan tindakan baik kita menjadi tulisan dan untaian kalimat-kalimat indah yang tertera dalam buku catatan kehidupan kita.
Setiap hari, kita menulis dalam lembara kertas baru kehidupan kita. Kemudian lembaran-lembaran itu akan disusun menjadi sebuah buku yang berisi seluruh catatan lengkap perjalanan hidup kita. Diantara amal baik, mungkin terselip perbuatan buruk. Dibalik niat baik, mungkin tersembunyi cara eksekusi yang buruk. Oleh sebab itu, pantaslah kiranya jika kita saling menyadari ketidaksempurnaan diri. Dan saling memaafkan satu sama lain. Persis seperti tuntunan para Nabi suci, untuk mengisi hari-hari baru kita dengan lembaran-lembaran baru kehidupan yang menorehkan catatan indah dalam buku kehidupan kita. Bagi seorang Muslim, Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk meluruskan tauhid dan memutihkan kembali kertas kehidupannya, serta menghiasinya dengan amal baik. Selamat menjalankan ibadah Ramadhan.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman - 1 Agustus 2011
Master Trainer & Natural Intelligence Inventor
Website: http://www.dadangkadarusman.com
Catatan Kaki:
Setiap hari baru adalah lembaran kertas kehidupan yang baru bagi kita. Terserah kepada keputusan masing-masing, hendak menuliskan apa didalam lembaran kertas kehidupan itu.
Silakan di-share jika naskah ini Anda nilai bermanfaat bagi yang lain.
Artikel: Menulis Diatas Kertas Kehidupan Kita
Hore, Hari Baru! Teman-teman.
Saya meyakini bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci. “Jiwanya bersih laksana selembar kertas putih,” demikian guru kehidupan saya mengajarkan. Setiap tindakan yang dilakukannya menjadi tanggungjawab orang tuanya hingga dia mencapai usia akil baligh. Jelas sekali jika orang tua hanya berperan dalam proses ‘persiapan’ saja. Sedangkan setelah seorang anak akil baligh, maka semua tindak tanduk dan perilakukanya menjadi tanggungjawab dirinya sendiri. Setiap orang memiliki buku catatan amalnya masing-masing yang akan menjadi laporan akhir ketika hari berbangkit tiba kelak. Lembaran-lembarannya merupakan dokumentasi semua perbuatan. Oleh sebab itu, menjalani hidup tidak ubahnya dengan menulis diatas kertas kehidupan itu sendiri.
Suatu ketika saya membuka kotak penyimpanan dokumen-dokumen lama yang sudah disimpan selama bertahun-tahun. Didalam kotak itu saya menemukan berbagai macam catatan, termasuk surat cinta, kartu lucu-lucu, puisi-puisi yang saya tulis, dan berbagai pernak-pernik lainnya. Ketika membacanya kembali, saya berkali-kali bergumam; apa iya saya pernah menulis kalimat ini? Tetapi saya tidak bisa mengelak karena kertas itu berisi tulisan tangan sendiri. Di hari kebangkitan kelak, nasib kita kira-kira sama; kita dihadapkan kepada buku besar berisi catatan perjalanan kehidupan. Jika catatan itu baik, maka kita akan senang. Namun, jika catatan itu buruk, kita bertanya; ‘benarkah saya sudah melakukan hal itu?” Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menulis dalam kertas kehidupan; saya ajak untuk memulainya dengan memahami 5 sudut pandang Natural Intelligence berikut ini:
1. Nilai selembar kertas ditentukan oleh catatan yang tertulis didalamnya. Bayangkan Anda memiliki 4 lembar kertas berukuran A4 yang masing-masing Anda beli seharga 100 rupiah. Satu lembar digunakan oleh Barrack Obama untuk menuliskan memo tentang skema pembayaran utang Amerika. Satu lembar diambil Bill Gates untuk menuliskan memo hadiah 1 milyar dollar bagi siapa saja yang membawa kertas itu ke akuntannya. Satu lembar lagi digunakan bajak laut karibia untuk menggambarkan peta penyimpanan harta karunnya. Lembar terakhir Anda simpan utuh dalam sebuah kotak kayu didalam gudang. Sekarang, apakah ke 4 lembar kertas itu nilainya tetap sama? Tidak. Karena diatas masing-masing kertas itu sekarang sudah tertera catatan penting yang menentukan ‘nilai sebenarnya dari kertas itu. Berapa nilai kertas yang Anda biarkan kosong? Hidup kita juga sama. Tuhan menciptakan semua orang dengan nilai yang sama. Namun saat kita kembali menghadap kepadaNya, nilai itu sudah tidak sama lagi. Karena nilai akhir hidup kita, ditentukan oleh catatan yang tertulis dalam buku kehidupan masing-masing.
2. Menyadari setiap goresan tinta dalam kertas kehidupan. Jika Anda berkunjung ke ruang bayi di rumah bersalin, cobalah perhatikan wajah bayi itu satu demi satu. Bukankah semua bayi itu lucu dan menggemaskan? Anda tidak perlu mengenal siapa orang tua mereka untuk menyukai sosoknya. Karena bayi adalah mahluk suci putih bersih laksana selembar kertas utuh ke-4 yang masih Anda simpan itu. Saya dan Anda, dulu persis seperti bayi-bayi itu. Jiwa kita bersih. Namun kita sering tergoda untuk melakukan tindakan dan perilaku yang dikendalikan oleh hawa nafsu, sehingga kita sering tidak mempertimbangkan konsekuensi tindakan yang kita lakukan. Padahal setiap tindakan kita pada hakekatnya merupakan goresan-goresan pena dalam lembaran-lembaran kertas kehidupan kita. Sungguh rugi jika kita terlalu banyak menggoreskan tinta keburukan. Dan kita diliputi oleh keberuntungan yang dijanjikan oleh para Nabi, jika kita mengisi kertas itu dengan pena yang menuliskan jejak-jejak kebaikan dalam perjalanan hidup kita. Setidak-tidaknya, kita bisa mengusahakan agar lebih banyak catatan baik daripada yang buruk.
3. Kita tidak bisa menyangkal tulisan yang pernah dibuat. Dalam kotak dokumen lama itu saya menemukan sebuah puisi yang sungguh indah. Siapakah gerangan yang menuliskan puisi ini? Sulit untuk mempercayai jika puisi itu saya sendiri yang menulisnya. Puisi yang saya buat ketika jatuh cinta. Dalam kotak itu juga saya menemukan sebuah kertas berisi catatan tentang pengakuan atas dosa-dosa yang telah saya lakukan. Seburuk itukah saya? Kapan? Saya tidak pernah melakukan itu. Tetapi, jelas sekali jika catatan itu menorehkan pengakuan tulus saya atas perilaku buruk yang sudah saya perbuat. Sungguh, kita tidak mungkin bisa mengingat semua hal yang pernah kita lakukan semasa hidup. Namun kertas kehidupan kita mencatatkan semuanya itu dengan sedetail-detailnya tentang makanan yang kita santap, hak orang lain yang kita jarah, harta yang kita rebut dengan cara licik, kebohongan yang kita tutupi didepan publik, bisikan hati yang kita sembunyikan, senyum yang kita tebarkan, nasihat yang kita sampaikan, kebaikan yang kita berikan. Semuanya tercatat dengan rapi. Kelak jika catatan itu dibahas disidang akhirat, kita akan terkejut; oh, benarkah saya telah melakukan kebaikan itu? Sebuah kejutan yang indah. Namun sungguh rugi jika kita terkejut oleh catatan buruk amal-amal kita. Lidah kita boleh menyangkal. Tetapi, catatan itu menceritakan segalanya. Penyangkalan kita menjadi sia-sia belaka.
4. Catatan masa lalu tidak bisa dihapus, namun bisa ditebus. Istri saya pernah bekerja di sebuah perusahaan pembuat kertas daur ulang. Bahan bakunya adalah kertas-kertas bekas apa saja yang berisi beragam macam catatan. Ditangan mereka, kertas bekas itu diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan pernak-pernik benda-benda seni yang indah. Tidak tampak lagi jejak catatan-catatan isi kertas sebelumnya. Sejak kita memasuki masa akil baligh, tentunya banyak keburukan yang sudah kita lakukan. Mungkin kita bisa meminta maaf. Namun kata maaf tidak serta merta menghapuskan catatan perbuatan buruk kita. Tidak mungkin semua itu bisa dihapus. Tetapi, kita bisa menebus semua keburukan dimasa lalu dengan komitmen untuk mengubahnya menjadi keindahan. Kertas kehidupan yang terlanjur coreng moreng itu harus diblender dengan komitmen tidak melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari. Lalu diperas, dicetak, disetrika, dan dibentuk serta dihias dengan perangai indah. Itu bukan perkara mudah. Namun kita bisa melakukannya jika kita benar-benar menginginkannya. Tetapi, siapa yang tidak ingin catatan kertas kehidupannya disajikan dalam bentuk yang indah saat menghadap Sang Khalik kelak? Perilaku baik dan perangai indah yang kita lakukan mulai saat ini, semoga menjadi penebus bagi catatan keburukan masa lalu yang tidak bisa dihapus.
5. Putihkan kembali kertas kehidupan yang mulai buram. Dalam kotak dokumen itu, semua kertas yang saya temukan berwarna buram kecoklatan. Padahal dulu kertas-kertas itu berwarna putih bersih. Sama seperti kertas kehidupan kita yang dulu putih bersih, namun kini sudah berubah menjadi kotor karena tindakan-tindakan buruk yang kita lakukan. Di pabrik kertas, bubur kayu mengalami proses ‘bleaching’ dengan klorin untuk menghilangkan pengaruh lignin yang membuat warna kertas menjadi buram. Kertas kehidupan kita diputihkan dengan apa? Sejak zaman dahulu, para para Nabi mengajarkan cara membleaching kertas kehidupan kita. Sesuai dengan tantangan pada zamannya masing-masing, para utusan suci itu tidak henti-hentinya mengajak umatnya untuk terus berusaha memutihkan kertas kehidupannya. Guru kehidupan saya menjelaskan bahwa meskipun berbeda masa, namun inti ajaran para Nabi itu sama yaitu; “Berserah diri hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Penyerahan diri secara utuh itulah yang menjadi ‘bleacher’ kertas kehidupan kita. Sedangkan perangai dan tindakan baik kita menjadi tulisan dan untaian kalimat-kalimat indah yang tertera dalam buku catatan kehidupan kita.
Setiap hari, kita menulis dalam lembara kertas baru kehidupan kita. Kemudian lembaran-lembaran itu akan disusun menjadi sebuah buku yang berisi seluruh catatan lengkap perjalanan hidup kita. Diantara amal baik, mungkin terselip perbuatan buruk. Dibalik niat baik, mungkin tersembunyi cara eksekusi yang buruk. Oleh sebab itu, pantaslah kiranya jika kita saling menyadari ketidaksempurnaan diri. Dan saling memaafkan satu sama lain. Persis seperti tuntunan para Nabi suci, untuk mengisi hari-hari baru kita dengan lembaran-lembaran baru kehidupan yang menorehkan catatan indah dalam buku kehidupan kita. Bagi seorang Muslim, Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk meluruskan tauhid dan memutihkan kembali kertas kehidupannya, serta menghiasinya dengan amal baik. Selamat menjalankan ibadah Ramadhan.
Mari Berbagi Semangat!

Catatan Kaki:
Setiap hari baru adalah lembaran kertas kehidupan yang baru bagi kita. Terserah kepada keputusan masing-masing, hendak menuliskan apa didalam lembaran kertas kehidupan itu.